Jumat, 30 Desember 2011

KERUWETAN


Fauzi Eko Pranyono

KERUWETAN

Malam ini, malam penghabisan tahun 1982 yang menyesakkan ini. Hampir semua orang keluar rumah memadati jalan, toko, warung, lorong-lorong. Mereka berteriak-teriak-teriaknya orang kesurupan sambil meniup-niup terompet. Kota Yogyakarta hingar bingar. Tapi bagi Malin tak ada yang istimewa malam ini. Tak lebih dari malam-malam sebelumnya yang ia lalui dengan letih.

Kamis, 29 Desember 2011

CINTA ADALAH


Fauzi Eko Pranyono

CINTA ADALAH

cinta adalah getaran kereta bawah tanah
bergulir ke sela-sela ladang jagung
memersik,
lalu termakan hama jagung.

Januari 1982

TENGAH MALAM PADA MALAM MINGGU... (II)


Fauzi Eko Pranyono

TENGAH MALAM PADA MALAM MINGGU AKU SEDANG MENIKMATI
WEDANG JAHE DI WARUNG KAGET PAK SOMAD DI SEBELAH TIMUR
PRESIDENT THEATER YOGYAKARTA (II)

lalu lalang manusia penuh kerinduan sunyi
ku hadapkan dalam opor di kesunyian malam
jalan solo,
lalu aku tertidur di pagi harinya
kasihku,
kita hidup di dunia untuk bertanding
bertanding dengan kehidupan yang liat!
(padahal aku tertidur di pagi harinya)

Yogyakarta, 3 Juli 1982

TENGAH MALAM PADA MALAM MINGGU... (I)


Fauzi Eko Pranyono

TENGAH MALAM PADA MALAM MINGGU AKU SEDANG MENIKMATI
WEDANG JAHE DI WARUNG KAGET PAK SOMAD DI SEBELAH TIMUR
PRESIDENT THEATER YOGYAKARTA (I)

kuteguk manisnya alkohol dalam bilangan malam
di depan sebuah toko
kudekap penuh kehangatan,
kubayangkan kepeluk tubuhmu (yang telah matang)
lalu kerebahkan pada kehidupanku.

Yogyakarta, 3 Juli 1982
Untukmu gadis berkepang

PAGI HARI DI RUANG TUNGGU STASIUN TUGU


Fauzi Eko Pranyono

PAGI HARI DI RUANG TUNGGU STASIUN TUGU

mengharap datang,
penantian kekakuan alam,
pada ujung barat yang bawa angin malam
bagi kabar
bahwa dia akan datang pagi ini
kekakuan…
selamat pagi,
sapanya.

Stasiun Tugu Peron Utara, subuh November 1981

DESAH


Fauzi Eko Pranyono

DESAH

(saatnya sekarang kita kembali lagi)
                dunia,
                telah kulihat gadis bertelanjang dada
                nampakkan gairahnya.
oh, wanita tua penunggu simpang jalan
tanganmu terlalu kaku memainkan hakpen
memintal kerudung dada
sayang, matahari telah lewat ke barat
(saatnya sekarang kita pulang, membawa mata kedamaian baru?)
                burung-burung sore telah berderet menanti malam,
                angin sore menelusup ke dadaku
terlambat.
syyaaaaaaaahhhh!!!

Magelang, Mei 1980

INTUISI DEBUR OMBAK


Fauzi Eko Pranyono

INTUISI DEBUR OMBAK

kuhembuskan harumnya kretek
menantang gulungan ombak
ah,
celaka ombaknya menyerbu
membuat ilusi cinta

tebing curam gerak semu
membuat cinta natural
kuhabiskan selonjor kretek
kubuang dalam terpaan ombak
menggelegar
kubisikkan alunan ombaknya
lewat sisi-sisi rumahmu

kunanti kamu dalam gulungan ombak.

Parangtritis, 16 November 1981

WAWASAN KITA


Fauzi Eko Pranyono

WAWASAN KITA

Aku telah berjalan ke barat,
di sana berpaut dengan warna,

telah kita lakukan setiap gebrakan.
Tapi tak satu pun sanggup meruntuhkan pintu,
pintu yang membuka alam ketaksadaran antara aku dan kamu
pintu itu membantu.

Kamu akan berjalan ke timur,
di sini aku berpaut dengan rindu.

Yogyakarta, 26 Oktober 1982

REBAH


Fauzi Eko Pranyono

REBAH

malam ini aku tak punya bekal kata
untuk kurangkai dalam kalimat,
kecuali tiga kata:
aku cinta kamu.

malam ini perjalanan panjang itu telah berakhir,
paling tidak pada etape pertama.
telah kutemukan kamu di reruntuhan diriku,
paling tidak senyummu,
serta dirimu yang pasrah di hadapanku.


Yogyakarta, 1983

GAPAIAN




Fauzi Eko Pranyono

GAPAIAN

radanglah,
getarlah,
atau matikah?

                                kini kita telah bersimbah luka
                                luka kita, kita injak bersama,

bernyanyilah,
bergembiralah,
atau menangislah?

                                besok kita akan tahu
                                bahwa tujuan kita sama

                                 
Yogyakarta, 17 Februari 1983